Potret Prajurit TNI di Perbatasan Tanah Air yang Menginspirasi

Caption for this image

Kisah para prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) di perbatasan selalu menarik untuk disimak. Selain sebagai garda terdepan penjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), para prajurit yang tergabung dalam unit-unit Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) ini adalah wajah-wajah terdepan yang wajib merefleksikan "ke-Indonesiaan" bangsa.

Berikut, tiga kisah menarik tentang kehidupan prajurit perbatasan dan kontribusi mereka bagi kehidupan masyarakat di garis-garis terluar tanah air.

 

1. Batas Utara (Kalimantan - Malaysia)

Lettu Inf Wijiono terlihat lebiih cekatan pagi itu. Ia bergegas meninggalkan pos jaganya di Awang Long, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara setelah mempersenjatai diri dengan sejumlah buku dan alat tulis. Bersama beberapa pasukan lain dari kesatuannya, Yonif 611/Awang Long, Wijiono berjalan menuju Madrasah Ibditaiyah (MI) Darul Furqon di Nunukan.

 

Sejak beberapa waktu lalu, Wijiono dan pasukannya rutin melakukan pembinaan dan memberikan pendidikan kebangsaan dan cinta tanah air kepada 31 siswa MI Darul Furqon. Hal tersebut, dikatakan Wijiono sebagai salah satu upaya untuk memelihara jiwa nasionalisme masyarakat di wilayah perbatasan.

"Pendidikan cinta Tanah Air sangat penting diterapkan kepada segenap warga negara Indonesia, terlebih bagi para pelajar dan usia dini," ujar Wijiono yang menjabat Komandan Pos Bukit Keramat Satgas Pamtas RI-Malaysia Yonif 611/Awang Long.

Selain untuk memelihara jiwa kebangsaan dan cinta tanah air warga perbatasan, tujuan dari pendidikan dan pembinaan yang dilakukan adalah untuk membentuk masyarakat Indonesia yang memiliki karakter dan mental yang kuat, sehingga dapat melindungi diri dari berbagai ancaman eksternal semacam narkoba, radikalisme, pergaulan bebas ataupun konflik-konflik horizontal.

2. Batas Timur (Papua - Papua Nugini)

Di perbatasan wilayah Indonesia-Malaysia di Nunukan, Kalimantan Utara ada Wijiono pasukan Yonif 611/Awang Long yang membawa cerita tentang pendidikan di wilayah perbatasan, di Papua, sebuah kisah patriotik lain datang dari pasukan Yonif Para Raider 330 Kostrad.

Seperti hari-hari biasanya, Mayor Inf Kamil Bahren Pasha memimpin pasukan patroli. Pagi itu, Kamil dan 12 pasukannya melakukan patroli dengan agenda pencarian patok perbatasan Indonesia-Papua Nugini.

"Patroli patok perbatasan wilayah negara ini dilaksanakan sebagai implementasi dari tugas pokok hadirnya Yonif Para Raider 330 di Tanah Papua," kata Kamil yang menjabat Komandan Satgas Pamtas Indonesia-Papua Nugini.

Sulitnya medan menuju titik-titik perbatasan menjadi tantangan yang wajib ditaklukkan oleh Kamil dan pasukannya. Lebatnya hutan Papua dengan kontur tanah berbukit-bukit, ditambah banyaknya rawa yang dihuni buaya menjadi wajib mereka lalui.

Setelah menempuh perjalanan darat selama berjam-jam, Kamil dan pasukannya masih harus menyambung perjalanan menggunakan speed boat selama lebih dari 11 jam untuk mencapai titik perbatasan yang terletak di Sungai Fly.

"Di Pos Rawa Bustop ini terdapat patok tapal batas negara RI-PNG yang diberi kode MM 11.A. Untuk mencapai letak patok tapal batas ini harus di tempuh menggunakan speed boat selama kurang lebih 11 jam karena patok tersebut berdekatan dengan sungai Fly dan medan yang dilalui cukup menyulitkan," papar Kamil.

Meski begitu, Kamil dan pasukannya tak pernah gentar. Mereka dengan tegas menyatakan siap untuk menghadapi apapun rintangan dan kesulitan dalam upaya menjaga keutuhan tanah air.

"Tetapi hal tersebut bukanlah menjadi hambatan yang berarti bagi prajurit Yonif Para Raider 330/ Tri Dharma Kostrad, Demi terwujudnya Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," tegas Kamil.

3. Batas Selatan (Nusa Tenggara Timur - Timor Leste)

Di sisi perbatasan bagian selatan, di Kefamenanu, Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, pasukan Satgas Pamtas dari kesatuan Yonif Raider 321 GT menjadi jawaban dari kesulitan masyarakat sekitar terhadap akses air bersih.

Komandan Satgas Pamtas Indonesia-Timor Leste Sektor Barat, Letkol Inf Mohamad Ghoffar Ngismangil menuturkan, selain melakukan pengamanan terhadap keutuhan negara, pihaknya juga sering membantu warga masyarakat memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Dibantu warga masyarakat, Ghoffar dan pasukannya melakukan pembenahan pada jaringan air. Dikatakan Ghoffar, pembenahan jaringan meliputi banyak hal, mulai dari memasang jaringan pipa baru, menyambung jaringan pipa baru dengan yang lama hingga merehabilitasi pipa-pipa lama yang telah rusak.

"Kegiatan pipanisasi air untuk masyarakat direncanakan untuk tahap ini berjarak 1,8 km dan membuat 13 tugu kran yg tersebar di Dusun II dan Dusun III Desa Manusasi," terang Ghoffar.

Terkait biaya pembenahan jaringan air tersebut, Ghoffar menyebut pendanaan bersumber dari pemerintah setempat.

"Dana yang digunakan adalah dana bantuan dari pemerintah dan pembangunannya bekerjasama dengan Pos Satgas Pamtas Manusasi, Sampai dengan hari ke-5 pembuatan tugu kran baru mencapai 9 tugu kran sehingga masih kurang 4 tugu kran yang belum dibangun," sambungnya.

Dengan pembenahan jaringan air ini, Ghoffar berharap kebutuhan masyarakat dan anggota TNI yang bertugas di perbatasan dapat terpenuhi. Oleh karena itu, Ghoffar meminta semua pihak menjaga dan merawat jaringan air ini. (okezone)

 

Tags :

Leave A Comment